Post

Upaya Memahami Atmosfer


Stasiun radar di Kototabang, Sumatera Barat, telah beroperasi 10 tahun, mengamati dinamika dan profil atmosfer dan ionosfer. Berdasarkan data observasi itu dikembangkan pemodelan untuk prediksi cuaca ekstrem dan menangkap fenomena perubahan iklim.

Observasi ini juga berprospek memprediksi gempa dan tsunami.

Interaksi laut dan atmosfer di Indonesia yang selalu disinari matahari merupakan mesin penggerak terjadinya uap air dan sirkulasi udara global, hingga terbentuk cuaca dan iklim dunia. Berada di antara Benua Asia-Australia, serta Samudra Pasifik dan Hindia, wilayah Nusantara berperan memasok massa udara berbagai penjuru.

Penyaluran uap air terjadi karena ada pola perputaran angin di wilayah ini. Ada angin monsun yang datang silih berganti dari dataran Asia di utara dan Australia di selatan ke wilayah Nusantara. Selain itu, ada tekanan udara yang naik turun antara Darwin di Australia dan Kepulauan Tahiti di Pasifik.

Besarnya pengaruh atmosfer dan laut di negeri ini yang memengaruhi kondisi cuaca global dan perubahan iklim mendorong pakar dari sejumlah negara menawarkan kerja sama dalam pemantauan dinamika atmosfer.

Kegiatan observasi atmosfer di Indonesia mulai dilakukan tahun 1950 melalui program pemantauan ozon global (GOOS). Penelitian ini kemudian diikuti program pemantauan polusi udara alamiah (”Background Air Pollution Monitoring Network”/Bapmon) tahun 1960-an.

Dari dua program penelitian itu ditemukan indikasi adanya penipisan lapisan ozon di lapisan stratosfer dan peningkatan gas-gas rumah kaca di atmosfer lapisan bawah atau troposfer.

Pengukuran gas rumah kaca (GRK) terus dilakukan hingga kini oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bekerja sama dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). ”BMKG mengambil data dari stasiun di Kototabang, dikirim ke Kantor Pusat NOAA untuk dianalisis,” kata Edvin Aldrian, Direktur Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG.

Data stasiun pemantau atmosfer global (GAW) di Kototabang menunjukkan, ada peningkatan konsentrasi karbon dioksida (CO2) dan gas metana (CH4) serta terlihat ada pola siklus tahunan. Tren peningkatan konsentrasi GRK tahunan (2004-2010) adalah CO2 sebesar 1,50 part per million (ppm), CH4 2,70 part per billion (ppb), N2O 0,795 ppb, dan SF6 0,265 part per trillion (ppt).

Hingga akhir 2010, konsentrasi berbagai spesies GRK mencapai CO2 ~ 385 ppm, CH4 ~ 1880 ppb, N2O ~ 324 ppb, dan SF6 ~ 7,15 ppt. ”Nilai itu merupakan gambaran nilai ambien GRK di Indonesia,” kata Edvin yang menulis penelitian ini untuk orasi pengukuhan sebagai profesor riset di BPPT. Nilai konsentrasi GRK ambien dipengaruhi berbagai aktivitas manusia, seperti pembakaran hutan, industri, dan rumah tangga.

Data konsentrasi CO2 dari stasiun Kototabang menunjukkan, konsentrasi GRK Indonesia jauh di bawah konsentrasi di Mauna Loa, Hawaii, Amerika Serikat (AS), dan di bawah rata-rata dunia. Artinya, polusi (emisi GRK) Indonesia masih jauh di bawah rata-rata dunia.

Dalam sidang United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), target konsentrasi CO2 ditetapkan sekitar 450 ppm. Dengan target itu, untuk wilayah Indonesia masih ada tenggang waktu hingga tahun 2053.

Stasiun Kototabang

Di Kototabang yang berada di Kabupaten Agam saat ini beroperasi dua stasiun observasi atmosfer. Selain stasiun GAW, juga ada stasiun Equatorial Atmosphere Radar yang dioperasikan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional kerja sama dengan Universitas Kyoto, Jepang.

Stasiun GAW Kototabang sudah mendapatkan registrasi dari World Meteorological Organization (WMO). Hasil pengukuran dari stasiun ini diperiksa di laboratorium NOAA di Boulder, AS, untuk divalidasi dengan standar internasional.

Program GAW dilaksanakan tahun 1989 dengan mengintegrasikan kegiatan GOOS dan Bapmon. Melalui program ini, para peneliti bisa lebih meningkatkan pemahaman soal iklim dan perubahan jangka panjang. Stasiun Kototabang merupakan satu dari enam stasiun GAW yang dibangun di dunia. Lima stasiun lain tersebar di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.

Selain GAW, juga dipasang sistem radar untuk mengamati kondisi atmosfer di khatulistiwa (Equatorial Atmosphere Radar).

Selama ini untuk memantau atmosfer dan lapisan udara atas (ionosfer) dilakukan dengan berbagai sistem pengamatan dirgantara, antara lain radar atmosfer, roket sonda dan balon stratosfer. (Kompas, 3 Oktober 2011/ humasristek)

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Web hosting

Sponsor

Pulsa Elektrik Murah
Anda dapat melakukan Pengisian Pulsa dari Hp Pribadi Anda Selamanya - Stok Pulsa Nasional
Jasa Design Website
Jasa Design Website Murah Harga Mulai Rp 300.000,- Pesan Cepat Pelayanan Memuaskan
Loket Listrik Online
Bagi Anda yang berminat untuk buka loket pembayaran listrik, daftar sekarang...!!!
DVD Mario Teguh Rp 60.000,-
Lebih dari 70 Episode dalam 1 DVD dapat anda miliki sekarang...!!!

Produk Sawit Costarika

Produk Sawit Costarika


Harga Produk

Bibit Kecambah Sawit Costarika Rp. 290.000/box - Isi 250 Biji/box
(Belum Termasuk Ongkos Kirim)

Kami Memberikan Harga Khusus Bagi Reseller

Archive

Total Tayangan Halaman


Alexa Site Audit logotype